Kehadiran Lisa BLACKPINK yang dikabarkan tengah melakukan syuting di kawasan Kota Tua Jakarta bukan sekadar kabar hiburan semata. Di balik antusiasme penggemar dan hiruk-pikuk media sosial, momentum ini menyimpan potensi besar bagi pariwisata ibu kota. Kota Tua, yang selama ini identik dengan wisata sejarah dan nostalgia, kini mendapat sorotan global lewat figur bintang K-Pop kelas dunia. Pertanyaannya, apakah euforia ini mampu diolah menjadi nilai tambah jangka panjang bagi wisata dan ekonomi lokal, atau hanya menjadi sensasi sesaat yang cepat berlalu?
Lisa BLACKPINK tengah melakukan syuting film internasional di kawasan Kota Tua Jakarta menjadi sorotan utama media hiburan maupun pariwisata. Proyek film Extraction,Tygo yang dibintanginya bersama Ma Dong-seok berlangsung hingga awal Februari 2026, termasuk pengambilan gambar di beberapa ruas jalan bersejarah Kota Tua.

Fenomena ini bukan sekadar kabar hiburan, momen syuting Lisa BLACKPINK membuka peluang besar bagi pariwisata Jakarta dan memberikan exposure global untuk destinasi bersejarah ini.
Pertama, dari sisi wisata dan ekonomi lokal, kehadiran bintang internasional seperti Lisa jelas meningkatkan gairah kunjungan. Terlihat terjadi peningkatan jumlah pengunjung ke Kota Tua sejak syuting berlangsung, terutama pada akhir pekan, baik wisatawan lokal maupun asing. Ini menunjukkan bahwa proyek film besar dapat menjadi magnet baru bagi destinasi bersejarah ini, membawa lebih banyak orang untuk mengenal dan menikmati Kota Tua Jakarta.
Dampak pada Wisatawan dan Penggemar
Bagi penggemar BLACKPINK , kesempatan melihat lokasi syuting Lisa secara nyata menghadirkan pengalaman unik yang sulit dilupakan. Sekadar berada di sekitar lokasi dapat terasa seperti berada di pusat dunia hiburan internasional.
Fenomena ini mendorong munculnya “parasocial tourism”, di mana penggemar datang tidak hanya untuk menikmati tempat wisata, tetapi juga untuk merasakan keterikatan emosional dengan idola mereka.
Namun, ada dampak bagi wisatawan reguler, beberapa ruas jalan di sekitar Kota Tua, seperti Jalan Kunir dan Jalan Cengkeh, ditutup atau dialihkan sementara demi kelancaran produksi. Meskipun sedikit merepotkan, antusiasme pengunjung justru meningkat, terutama pada akhir pekan.
Namun tentu ada dua sisi soal pengalaman wisatawan:
- Gangguan akses wisata karena penutupan jalan atau area tertentu selama proses syuting. Beberapa ruas di dalam atau sekitar kawasan, seperti Jalan Kunir atau Jalan Cengkeh, mengalami rekayasa arus demi kelancaran produksi. Ini bisa sedikit merepotkan bagi pengunjung yang datang semata untuk menikmati Kota Tua sebagai destinasi wisata.
- Di sisi lain, efek ekonomi positif tidak bisa diabaikan, kehadiran syuting besar sering membawa peluang bagi pedagang lokal, UMKM, dan sektor jasa untuk mendapatkan kompensasi, pemasukan tambahan, atau bahkan peluang branding baru terkait event besar internasional seperti ini.
Secara keseluruhan, fenomena Lisa syuting di Kota Tua Jakarta menjadi contoh bagaimana kegiatan seni dan hiburan internasional bisa berdampak luas, tidak hanya sebagai konsumsi pop culture, tetapi juga sebagai pendorong ekonomi kreatif, pariwisata, dan exposure global bagi sebuah kota.