Close Menu
Infojelajah.com
  • Pasar
  • Jakarta Kini
  • Wisata
  • Kuliner
  • Entertainment
  • Kisah Inspiratif
  • Foto Jelajah

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kuliner Legendaris Solo: Tengkleng dan Nasi Liwet Paling Ikonik

20 April 2026 | 18:52

Cwie Mie Malang: Kuliner Legendaris yang Punya Cita Rasa Unik

20 April 2026 | 18:17

Wisata Medis Sanur Bali: Transformasi Menjadi Pusat Kesehatan Dunia

20 April 2026 | 16:27
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
Infojelajah.com
  • Pasar
  • Jakarta Kini
  • Wisata
  • Kuliner
  • Entertainment
  • Kisah Inspiratif
  • Foto Jelajah
Infojelajah.com
  • Pasar
  • Jakarta Kini
  • Wisata
  • Kuliner
  • Entertainment
  • Kisah Inspiratif
  • Foto Jelajah
Home » Kuliner » Sejarah Wingko Babat Semarang: Asal-Usul dan Rahasia Kelezatannya
Kuliner

Sejarah Wingko Babat Semarang: Asal-Usul dan Rahasia Kelezatannya

sammBy samm20 April 2026 | 15:53
Share Facebook Twitter WhatsApp Telegram Email Copy Link
Sejarah Wingko Babat Semarang
Sejarah Wingko Babat Semarang (foto: Freepik)
Share
WhatsApp Facebook Twitter Email Copy Link

Infojelajah - Sejarah Wingko Babat Semarang menyimpan cerita panjang yang menarik untuk kita telusuri lebih dalam di balik kelezatan rasa kelapanya yang gurih. Bagi para pelancong, kudapan manis ini merupakan buah tangan wajib saat berkunjung ke Kota Atlas. Namun, siapa sangka bahwa nama “Babat” pada camilan ini sebenarnya merujuk pada sebuah kecamatan kecil di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Kudapan ini menawarkan perpaduan tekstur kenyal dari tepung ketan dan aroma wangi kelapa muda yang terpanggang sempurna.

Kue tradisional yang memikat lidah ini lahir dari tangan dingin seorang perantau asal Tiongkok bernama Loe Soe Siang. Beliau merintis produksi kue ini di Kecamatan Babat sejak tahun 1898, jauh sebelum produk ini populer di Jawa Tengah. Resep aslinya mengandalkan kesederhanaan bahan lokal yang berkualitas tinggi. Loe Soe Siang mencampurkan tepung ketan putih pilihan dengan parutan kelapa muda segar untuk menciptakan harmoni rasa yang pas.

Akar Budaya dalam Sejarah Wingko Babat Semarang

Sejarah Wingko Babat Semarang
Sejarah Wingko Babat Semarang (foto: Istimewa)

Membahas tentang Sejarah Wingko Babat Semarang tidak lepas dari peran besar Loe Lan Hwa, putri dari Loe Soe Siang. Pada tahun 1944, di tengah gejolak Perang Dunia Kedua, Loe Lan Hwa bersama suaminya, The Ek Tjong, memutuskan untuk mengadu nasib ke Semarang. Mereka membawa serta resep rahasia keluarga yang telah teruji puluhan tahun di tanah Lamongan. Langkah ini menjadi titik balik penting yang mengubah status wingko dari jajanan lokal menjadi ikon kuliner kota besar.

Baca Juga

  • Kuliner Legendaris Solo: Tengkleng dan Nasi Liwet Paling Ikonik
  • Cwie Mie Malang: Kuliner Legendaris yang Punya Cita Rasa Unik

Advertisement

Pada masa awal kepindahannya, Loe Lan Hwa memulai bisnis dari skala yang sangat kecil. Beliau menjajakan kue buatannya dengan cara berkeliling dari rumah ke rumah di sekitar pemukiman warga. Tak hanya itu, Loe Lan Hwa juga menitipkan dagangannya di kios-kios kecil yang berada di sekitar Stasiun Tawang Semarang. Ternyata, warga setempat menyambut hangat cita rasa gurih dan manis yang ditawarkan oleh kue kelapa tersebut.

Seiring berjalannya waktu, popularitas kue ini meningkat drastis hingga menciptakan permintaan pasar yang sangat tinggi. Masyarakat mulai mencari-cari “kue dari Babat” tersebut setiap kali mereka berkunjung ke area stasiun. Hal inilah yang kemudian memperkuat posisi Sejarah Wingko Babat Semarang sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner ibu kota Jawa Tengah tersebut.

Lahirnya Legenda Cap Kereta Api

Salah satu tonggak sejarah yang paling ikonik adalah munculnya merek Wingko Babat Cap Kereta Api. Nama ini tidak muncul secara kebetulan, melainkan karena lokasi penjualan mereka yang sangat identik dengan stasiun kereta api. Suami Loe Lan Hwa mendapat inspirasi logo lokomotif saat melihat gambar di buku menu kereta makan (restorasi) pada masa itu. Logo tersebut kini menjadi simbol keaslian dan kualitas yang tetap terjaga selama puluhan tahun.

Baca Juga

  • Kuliner Sichuan Otentik di PIK: Cicipi Sate Herbal Kuan Zhai

Advertisement

Hingga detik ini, pusat produksi utama mereka masih bertahan di kawasan Jalan Cendrawasih, Semarang Utara. Area ini seringkali dipadati oleh wisatawan yang rela mengantre demi mendapatkan wingko yang masih hangat. Menariknya, pengelola masih mempertahankan teknik memasak tradisional menggunakan tungku kayu bakar. Teknik ini memberikan aroma smoky yang khas, sebuah detail yang sulit ditiru oleh mesin-mesin pabrik modern yang menggunakan gas atau listrik.

Perbedaan Karakter Wingko di Dua Kota

Meskipun Sejarah Wingko Babat Semarang sangat dominan, saudaranya di Lamongan tetap mempertahankan eksistensinya. Loe Lan Ing, saudara Loe Lan Hwa, tetap bertahan di Babat untuk meneruskan usaha sang ayah. Toko Wingko Babat Loe Lan Ing di Lamongan menjadi saksi bisu bahwa akar sejarah kue ini tetap tertanam kuat di tanah kelahirannya. Wisatawan yang melintasi jalur Pantura Lamongan akan disambut oleh tugu wingko raksasa di perempatan pasar Babat sebagai penanda resmi.

Ada sedikit perbedaan karakteristik antara wingko versi Semarang dan Babat. Di Babat, para perajin cenderung membuat kue dengan ukuran yang lebih besar dan tebal. Kandungan kelapa mudanya juga terasa lebih melimpah, sehingga teksturnya jauh lebih empuk dan basah. Sementara itu, versi Semarang biasanya hadir dalam ukuran yang lebih kecil dan praktis untuk sekali makan, sangat cocok untuk menemani perjalanan jauh para wisatawan.

Baca Juga

  • No related articles available.

Advertisement

Inovasi rasa juga terus berkembang mengikuti selera generasi masa kini. Jika dahulu hanya ada rasa original, sekarang para produsen menawarkan varian cokelat, nangka, durian, hingga keju. Meskipun variasi modern ini sangat populer, rasa original kelapa tetap menjadi primadona bagi para penikmat sejati. Harga yang terjangkau membuat kudapan ini tetap menjadi pilihan utama bagi semua kalangan masyarakat.

Tips Memilih dan Menikmati Wingko Berkualitas

Bagi Anda yang ingin mencicipi bagian dari Sejarah Wingko Babat Semarang, ada beberapa tips untuk mendapatkan kualitas terbaik. Pertama, pastikan kelapa yang digunakan adalah kelapa muda pilihan agar tekstur kue tidak keras atau berserat. Kedua, perhatikan warna kulit luarnya; wingko yang bagus memiliki warna cokelat keemasan yang merata hasil dari proses pemanggangan yang sabar.

  • Pilihlah produk yang masih terasa hangat karena aromanya lebih keluar.
  • Periksa tanggal kedaluwarsa, biasanya wingko tradisional hanya bertahan 3-4 hari karena tanpa pengawet.
  • Simpan di wadah kedap udara jika ingin menjaga kelembutannya lebih lama.
  • Hangatkan kembali di atas teflon tanpa minyak jika kue sudah mulai mengeras.

Proses pembuatan wingko sebenarnya terlihat sederhana, namun menuntut ketelitian tinggi. Tepung ketan harus tercampur sempurna dengan santan kental dan gula pasir hingga mencapai tingkat kekenyalan yang pas. Api yang digunakan saat memanggang pun harus stabil agar bagian dalam kue matang sempurna tanpa menghanguskan bagian luarnya. Inilah rahasia mengapa rasa wingko tradisional tetap tak tergantikan oleh produk massal lainnya.

Baca Juga

  • No related articles available.

Advertisement

Mengetahui Sejarah Wingko Babat Semarang memberikan kita perspektif baru tentang bagaimana sebuah resep keluarga bisa menjadi warisan budaya nasional. Perjalanan dari sebuah kecamatan kecil di Lamongan hingga menjadi primadona di Semarang adalah bukti kekuatan tradisi kuliner nusantara. Jadi, saat Anda menggigit sepotong wingko hangat nanti, ingatlah ada dedikasi lintas generasi yang terkandung di dalamnya.

Jajanan Tradisional Kuliner Semarang Oleh-oleh Jawa Tengah Sejarah Kuliner Wingko Babat
Previous ArticleTips Liburan Aman ke Nepal: Panduan Taklukkan Atap Dunia
Next Article Promo Tiket TMII 51 Persen Meriahkan HUT ke-51 di Jakarta

Artikel Terkait

Kuliner

Kuliner Legendaris Solo: Tengkleng dan Nasi Liwet Paling Ikonik

20 April 2026 | 18:52
Kuliner

Cwie Mie Malang: Kuliner Legendaris yang Punya Cita Rasa Unik

20 April 2026 | 18:17
Kuliner

Kuliner Sichuan Otentik di PIK: Cicipi Sate Herbal Kuan Zhai

16 April 2026 | 20:15
Advertisement
Infojelajah
TERPOPULER

Tips Liburan Aman ke Nepal: Panduan Taklukkan Atap Dunia

Wisata By samm19 April 2026 | 07:07

Promo Tiket TMII 51 Persen Meriahkan HUT ke-51 di Jakarta

Jakarta Kini By samm20 April 2026 | 16:12

Wisata Medis Sanur Bali: Transformasi Menjadi Pusat Kesehatan Dunia

Wisata By samm20 April 2026 | 16:27

Panduan Wisata Dieng 2026: Harga Tiket dan Rute Tol Terbaru

Wisata By samm19 April 2026 | 06:26

Itinerary Malang Batu 4 Hari: Panduan Rute Viral 2026

Wisata By samm19 April 2026 | 07:00

Cwie Mie Malang: Kuliner Legendaris yang Punya Cita Rasa Unik

Kuliner By samm20 April 2026 | 18:17

Revitalisasi Kota Tua Jakarta Dimulai, Dibagi Jadi Tiga Zona

Jakarta Kini By samm18 April 2026 | 19:25
BACA JUGA
Entertainment

6 Hal Wajib di Ketahui Little Bangkok Tanah Abang, Surga Belanja Fashion di Jakarta

By samm11 Maret 2024 | 11:45

Little Bangkok Tanah Abang telah menjadi sorotan utama di tengah sepinya pengunjung pasar tradisional Tanah…

Sinopsis Luka Makan Cinta Netflix: Drama Kuliner Penuh Emosi

18 April 2026 | 04:12

Cara Reservasi Pantai Tiga Warna Malang Terbaru April 2026

16 April 2026 | 20:01

Jakarta Pusat Aktifivitas Tanpa Henti

21 Mei 2024 | 16:30

Misteri Makam Kuno Skotlandia Terungkap Lewat DNA

18 April 2026 | 06:16

Little Bangkok Tanah Abang Ramai Pengunjung

11 Maret 2024 | 12:25
Advertisement
Infojelajah
Infojelajah.com Logo
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
© Info Jelajah 2026 | All Rights Reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.